Kamis, 02 Juli 2026

T1.2.1. Aktivitas 1. Menggugah Minat Menyimak Cerita dan Menjawab Pertanyaan Reflektif

 
T1.2.1. Aktivitas 1. Menggugah Minat Menyimak Cerita dan Menjawab Pertanyaan Reflektif





1.   Potensi kekuatan dari keragaman

Saya melihat bahwa keragaman dalam kelas justru mendatangkan kekuatan besar dalam pelajaran

§  Siswa yang aktif dapat memancing diskusi dan menghidupkan suasana kelas.

§  Siswa dengan kemampuan tinggi dapat membantu teman dengan tutor sebaya

§  Siswa dengan lata belakang yang berbeda membawa sudut pandang yang beragam, sehingga pembelajaran lebih kaya.

§  Adanya variasi gaya belajar (visual, auditory, dan kinesty) mendorong saya untuk lebih kreatif dalam mengajar

Keragaman ini membuat kelas tidak monoton dan membuka peluang terjadinya pembelajaran kolaboratif yang bermakna.

2.   Tantangan yang nyata di alami.

Di sisi lain, saya juga menghadapi beberapa tantangan

§  Perbedaan keaktifan antara kelas (ada yang sangat aktif, ada kesiapan belajar)

§  Kesenjangan akademik yang cukup jauh

§  Siswa yang kurang percaya diri atau takut salah

§  Latar belakang keluarga yang mempengaruhi motivasi kesiapan belajar

Tantangan terbesar adalah bagaimana menyusun pembelajaran yang bisa menjangkau semua murid secara adil.

3.   Upaya yang sudah dilakukan

Beberapa hal yang sudah lakukan :

§  Menggunakan variasi metode pembelajaran (diskusi, latihan soal, penjelasan visual)

§  Memberikan kesempatan bertanya dan berdiskusi

§  Membantu siswa yang kesulitan melalui penjelasan ulang

§  Mencoba menciptakan suasana kelas yang yaman dan tidak menakutkan

§  Berkomunikasi dengan rekan guru, termasuk guru BK untuk memahami siswa lebih dalam

4.   Hal yang perlu di tingkatkan

Saya menyadari masih ada yang perlu saya tingkatkan:

§  Lebih konsisten menerapkan pembelajaran berdiferensiasi

§  Memberikan ruang aman bagi semua murid berpendapat tampa takut salah

§  Lebih peka pada kebutuhan individu siswa, bukan hanya secara klasikal

§  Menggunakan lebih banyak konteks nya dalam kehidupan sehari hari

§  Meningkat kolaborasi pada semua stakeholder lingkungan belajar

§  Mengantisipasi potensi diskriminasi, stereotip, atau bullying dalam kelas

Penutup refleksi


Pelatihan Pendidikan Inklusif Tingkat Dasar

 

T1.1.5. Aktivitas 5. Merefleksikan Pembelajaran Menjawab Pertanyaan dari Tantangan Pembelajaran






1.     Apa yang menjadi tantangan utama yang dihadapi Yoga dalam proses belajar di kelas?

Berdasarkan cerita yang disajikan, tantangan utama yang di hadapi yoga adalah ketidak mampuan mengakses informasi visual yang menjadi inti dari pembelajaran diagram siklus air yang ditampilkan melalui LCD sangat membantu murid lain. Tetapi tidak dapat di akses oleh yoga sebagai penyandang disabilitas netra. Yoga yang merupakan anak cerdas, biasanya penuh semangat, dan sangat senang bercerita. Menjadi murung usai jam pelajaran. Cara penyampaian guru masih bergantung pada penunjukan visual (misalnya “ bagian ini”, “yang ini”) tanpa mendeskripsikan verbal yang detail yang membuat yoga semakin kesulitan dalam memahami materi. Yoga tidak mencatat apapun selama pelajaran ipa. Ia tidak dapat membayangkan gambar diagram siklus air dan bagian bagiannya yang disajikan melalui layar LCD. Hal ini menunjukkan bahwa pelajaran nbelum sepenuhnya dirancang secara inklusif untuk kebutuhan semua murid.

2.     Bagaimana kira-kira dampak tantangan tersebut dalam pembelajaran?

Dampat yang dirasakan yoga cukup besar. Antara lain :

·       Kesulitan memahami konsep karena tidak dapat menemukan representasi sesuai dengan kebutuhannya

·       Tidak dapat mengikuti pelajaran secara optimal sehingga tertinggal ndari teman temannya

·       Menurunnya kepercayaan diri terlihat dari sikap murung dan tidak mencatat

·       Berpotensi merasa tidak dilibatkan atau tidak mendapat kesempatan belajar setara

·       Jika ini terjadi terus menerus yoga akan kehilangan semangat belajar padahal ia memiliki potensi diri dan semangat yang tinggi

Kesimpulan :

Kasus ini menunjukkan bahwa tantangan ini bukan terletak pada kemampuan yoga tetapi pada akses pembelajaran yang belu merata. Hal ini mejadi pengingat bahwa pembelajaran yang efektif harus mampu menjangkau semua murid. Terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus agar setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang setara.

 

Pelatihan Pendidikan Inklusif Tingkat Dasar

 

T1.1.4. Aktifitas 4 Menerapkan Konsep memetakan keragaman



Nur Dinawati, S.Pd, Gr

No.

 

Jenis Keragaman

Karakteristik Murid

Kebutuhan Belajar

1

Preferensi Belajar

·        Visual Cepat Paham Gambar.

·        Auditori (Suka mendengangarkan Penjelasan

·        Kinestik ( suka begerak dan Praktek

·        Media visual lebih banyak gambar, video, diagram

·        Penjelasan lisan dan rekaman audio

·        Aktivitas praktik dan gerakan

2

Hambatan Disabilitas

·        Kesulitan membaca

·        Gangguan penglihatan

·        Gangguan pendengaran

·        Diskleksia atau kesulitan belajar spesipik

·        Pendampingan membaca, font besar, teks sederhana

·        Media braille/ audio/ pembesaran tekt

·        Alat bantu dengar, subtitle, bahasa isyarat pendekatan multisensori

3

Tingkat Kemampuan Akademik

·        Siswa berbakat (gifted)

·        Siswa lambat belajar

·        Rentang kemampuan sangat beragam

·        Pengayaan materi (enrichment)

·        Ramedial & scaffolding

·        Pembelajaran diferensiasi (tugas bertingkat)

4.

Latar Belakang Budaya

·        Bahasa ibu berbeda dengan bahasa pengantar.

·        Nilai dan norma budaya yang berbeda.

·        Pengalaman sosial ekonomi beragam

·        Pendekatan bahasa yang inklusif

·        Materi yang menghargai keberagaman budayua

·        Contoh yang kontekstual dan relefan dengan kehidupan siswa

5.

Kondisi Sosial Ekonomi

·        Akses teknologi terbatas

·        Kurang dukungan belajar dirumah

·        Kebutuhan nutrisi dan kesehatan

·        Materi ofline dan murah

·        Fleksibel waktu pengumpulan tugas

·        Kerjasama dengan oran tua dan komunitas

6.

Karakteristik Emosional Sosial

·        Rendahnya rasa percaya diri

·        Hiperaktif atau mudah bosan

·        Memiliki trauma atau masalah emosional

·        Pendekatan positif, pujian. Motivasi.

·        Struktur kelas yang jelas dan rutinitas

·        Dukungan konseling dan lingkungan aman


Sabtu, 27 Juni 2026

 


T4.1.3. Aktivitas 3. Memperkaya Pemahaman Menyimak Tayangan Video

 

 

Setelah mencermati video tersebut, refleksikan:

1.   Apa yang muncul di benak saya setelah menonton video tersebut?

Setelah menonton video tersebut, saya menyadari bahwa apa yang dialami oleh guru dalam video hampir setiap hari juga terjadi di sekolah kami. Di hampir setiap kelas terdapat sekitar 3–5 orang siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru, kurang aktif mengerjakan tugas, bahkan terkadang tidak hadir pada mata pelajaran tertentu.

Selama ini saya berpikir bahwa penyebabnya adalah materi pelajaran yang kurang menarik, metode pembelajaran yang kurang bervariasi, atau karena siswa malas belajar. Namun, setelah menyaksikan video tersebut, saya menyadari bahwa ada hal penting yang selama ini sering terlewat, yaitu memahami karakteristik, kebutuhan, dan kemampuan setiap peserta didik. Tidak semua siswa belajar dengan cara yang sama. Ada siswa yang membutuhkan pendekatan, dukungan, maupun bentuk asesmen yang berbeda agar mereka dapat menunjukkan potensi terbaiknya.

Video ini membuka cara pandang saya bahwa sebelum menilai hasil belajar siswa, saya perlu memahami proses belajar yang mereka jalani.

2.   Sudahkah saya menilai murid berdasarkan proses dan komitmennya, bukan hanya hasil akhirnya?

Saya menyadari bahwa selama ini penilaian yang saya lakukan masih lebih banyak berfokus pada hasil akhir, seperti nilai tugas, ulangan, atau ujian. Walaupun sesekali saya memperhatikan keaktifan dan kedisiplinan siswa, aspek proses belajar mereka belum menjadi perhatian utama.

Ke depan, saya ingin mulai memberikan apresiasi terhadap usaha, perkembangan, ketekunan, dan komitmen siswa selama mengikuti pembelajaran. Dengan demikian, setiap siswa memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya sesuai dengan potensi masing-masing, bukan hanya melalui nilai akhir.

3.   Bagaimana tayangan video tersebut menguatkan pemahaman saya tentang asesmen di kelas?

Video tersebut menguatkan pemahaman saya bahwa asesmen bukan sekadar kegiatan memberikan nilai, tetapi merupakan proses untuk memahami perkembangan belajar siswa secara menyeluruh. Asesmen dapat menjadi alat bagi guru untuk mengetahui kebutuhan belajar, hambatan yang dihadapi, kekuatan yang dimiliki, serta menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat.

Saya juga memahami bahwa asesmen yang baik dilakukan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran, bukan hanya di akhir pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat memberikan dukungan yang sesuai sehingga semua siswa memiliki kesempatan untuk berkembang.

4.   Bagaimana saya bisa menjadikan asesmen sebagai dialog yang membangun, bukan sekadar penilaian satu arah?

Saya dapat menjadikan asesmen sebagai dialog dengan memberikan umpan balik yang positif, jelas, dan membangun kepada siswa. Saya juga ingin melibatkan siswa dalam proses refleksi terhadap hasil belajarnya, misalnya dengan mengajak mereka berdiskusi mengenai kesulitan yang dialami, keberhasilan yang telah dicapai, serta langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Selain itu, saya akan membuka ruang komunikasi yang lebih baik dengan siswa agar mereka merasa aman untuk menyampaikan pendapat dan kesulitannya. Dengan cara tersebut, asesmen tidak lagi dipandang sebagai kegiatan mencari kesalahan, tetapi menjadi sarana untuk membantu siswa berkembang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

 

 

T4.1.1. Aktivitas 1. Menggugah Minat Bukan Tak Mampu Mengikuti, Mereka Hanya Perlu Dipahami

 

Nur Dinawati

SMKN 1 Selayar

 

 

Refleksi:

Bisakah Bapak dan Ibu mengingat salah satu pengalaman di kelas ketika menghadapi murid dengan perilaku tidak biasa? Sangat bisa dipahami kalau Bapak dan Ibu Guru saat itu merasa kebingungan, tidak tahu penyebab murid berperilaku demikian dan tidak tahu pendekatan apa yang tepat untuk diberikan. Rasa tidak tahu ini selanjutnya bisa mengantarkan kita pada beragam pertanyaan.

Coba Bapak dan Ibu renungkan:

·        Apa yang Bapak dan Ibu rasakan saat itu?

Ketika mengajar di kelas, saya pernah menghadapi seorang murid yang sering sulit berkonsentrasi, tampak gelisah, dan terkadang tidak mengikuti instruksi seperti teman-temannya. Pada saat itu saya merasa bingung sekaligus khawatir karena belum memahami penyebab perilaku tersebut. Saya juga merasa takut jika kondisi tersebut mengganggu proses belajar murid lain. Bukan hanya itu kadang saya merasa apakah materi yang saya ajarkan kurang di sukai atau metode saya kurang seru.

·        Apa penyebab dari perilaku tersebut yang sempat Bapak dan Ibu pikirkan?

Awalnya saya mengira perilaku tersebut disebabkan oleh kurangnya motivasi belajar, kurang disiplin, atau memang tidak mau mengikuti pembelajaran. Berdasarkan pemahaman yang saya miliki saat itu, saya belum berpikir bahwa perilaku tersebut bisa jadi berkaitan dengan kebutuhan belajar yang berbeda atau kondisi perkembangan tertentu

·        Apa tindakan pertama yang Bapak dan Ibu lakukan?

Tindakan pertama yang saya lakukan adalah menegur murid tersebut dengan lembut, mengingatkannya untuk kembali fokus, kemudian mencoba memberikan pendampingan secara singkat saat kegiatan berlangsung. Saya juga berusaha berkomunikasi dengan wali kelas dan orang tua untuk memperoleh gambaran mengenai kebiasaan murid tersebut di rumah. Tidak hanya itu saya mengomfirmasi teman guru yang megajar di ruang kelas yang sama menanyakan kebiasaan siswa saat belajar mata pelajaran mereka

·        Seandainya diberi kesempatan untuk mengulang kembali, adakah hal berbeda yang akan Bapak dan Ibu lakukan?

Setelah mempelajari pendidikan inklusif dan memahami pentingnya mengenali kebutuhan belajar setiap murid, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang seharusnya dapat saya lakukan dengan pendekatan yang lebih tepat. Jika diberi kesempatan untuk mengulang, saya akan lebih dahulu melakukan observasi secara menyeluruh, membangun komunikasi yang lebih dekat dengan murid, berdiskusi dengan orang tua dan rekan guru, serta menyesuaikan strategi pembelajaran agar lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid tersebut.

 

·        Apakah saat itu Bapak dan Ibu memiliki informasi yang cukup tentang kebutuhan murid tersebut?

Pada saat itu saya menyadari bahwa informasi yang saya miliki tentang kebutuhan murid masih sangat terbatas. Kini saya memahami bahwa setiap perilaku memiliki alasan yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Oleh karena itu, sebagai guru saya perlu terus belajar agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan inklusif sehingga setiap murid memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensinya

 

T3.2.4. Aktivitas 4. Menerapkan Konsep Merancang Kelas Ramah dan Inklusif

 


T3.2.4. Aktivitas 4. Menerapkan Konsep Merancang Kelas Ramah dan Inklusif

 

 

 

Tujuan:

Pada aktivitas ini, Bapak dan Ibu diharapkan dapat mengidentifikasi kondisi lingkungan fisik dan non-fisik di kelasnya serta merancang perbaikan yang sesuai dengan komponen yang sudah dipelajari dalam bagian eksplorasi.

Langkah-Langkah Kegiatan

1.     Refleksi Diri

o   Tuliskan bagaimana kondisi fisik kelas Bapak dan Ibu saat ini:

§  Apakah ruang kelas sudah mudah diakses oleh semua murid?

Untuk kondisi pisik ruang kelas saya saat ini sudah cukup bersih dan rapi amun masih ada beberapa hal yang perlu di perbaiki agar lebih ramah, aman, nyaman, dan inklusif bagi semua murid.

§  Apakah tempat duduk, pencahayaan, dan alat bantu belajar sudah sesuai kebutuhan?

Untuk penataan tempat duduk masih cenderung berbaris ke belakang sehingga interaksi antar murid belum maksimal, sementara untuk pencahayaan sudah lumayan maksimal karena setiap kelas yang ada di sekolah kami di lengkapi jendela pada dua sisi pada sisi bagian dekat pagar sekolah kami buat lebih rendah sehingga siswa dapat menikmati pemandangan bagian belakang kelas yang kami buat taman kecil sedangkan di bagian dinding koridor kami buat lebih tinggi agar fokus siswa tidak lari saat melihat siswa lain melintas. Dalam kelas terdapat beberapa poster penyemangat dan beberapa gambar pahlawan ada juga di bagian pojok kelas tempat hasil karya para siswa, namun saya merasa kelas saya aman bagi anak berkebutuhan khusus kecuali yang menggunakan kursi roda dan nak low vision karena koridor sekolah tidak dilengkapi jalan yang lurus, serta ubin yang khusus untuk tuna netra dan low vision

 

 

o   Tuliskan juga bagaimana suasana non-fisik di kelas:

§  Bagaimana interaksi sosial di kelas?

Interaksi sosial di kelas cukup baik. Murid suda mulai terbiasa bekerja sama dan saling membantu walau kadang masih ada siswa yang malu untuk mencapai pendapat.

      • Ap akah suasana emosional mendukung kenyamanan belajar?

Suasana emosional dalam kelas cukup positif karena guru berusaha menciptakan pelajaran yang menyenangkan dan tidak menegangkan. Namun masih perlu upaya agar semua murid merasa lebih percaya diri dan di hargai

2.     Identifikasi Kelebihan dan Kendala

o   Lingkungan fisik

Kelebihan

Kendala

ü  Bersih, rapi, dan cukup nyaman

ü  Pencahayaan alami baik pada 2 sisi jendela.

ü  Pemandangan taman kecil menambah rasa nyaman saat jenuh.

ü  Tersedia poster penyemangat, gambar pahlawan dan juga pojok hasil karya siswa.

ü  Lingkungan kelas relatif aman

v Penataan tempat duduk berbaris ke belakang sehingga sehingga interaksi jadi terbatas.

v Aksebilitas belum inklusif: belum ramah untuk pengguna kursi roda, low vision dan tunanetra,( koridor sekolah belum memiliki jalan tanjakan yang lurus, belum ada ubin pemandu untuk tuna netra)

v Beberapa area penyimpangan dan sirkulasi masih kurang optimal

o   Lingkungan non fisik

Kelebihan

Kendala

ü  Interaksi sosial antar murid cukup baik

ü  Murid terbiasa saling kerja sama dan membantu

ü  Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak menegangkan

v Masih ada murid yang malu menyampaikan pendapat

v Belum semua murid merasa percaya diri dan di hargai.

v Perlu penguatan dan aturan kelas positif dan konsisten

v Perlu lebih banyak kegiatan yang melibatkan murid secara aktif

 

o   Fokus pada hal-hal yang paling berpengaruh terhadap kenyamanan dan partisipasi murid.

Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, hal yang paling berpengaruh terhadap kenyamanan dan partisipasi murid adalah:

1.     Mengubah penataan tempat duduk menjadi lebih fleksibel (berkelompok atau berbentuk U) agar interaksi dan kolaborasi meningkat.

2.     Meningkatkan aksesibilitas kelas secara bertahap sehingga dapat digunakan oleh semua murid, termasuk murid berkebutuhan khusus.

3.     Membangun iklim kelas yang lebih inklusif, yaitu memberikan kesempatan yang sama kepada setiap murid untuk berpendapat, bekerja sama, dan memperoleh apresiasi sehingga rasa percaya diri serta keterlibatan belajar meningkat.

3.     Rancang Perubahan

o   Gambarkan secara sederhana denah atau deskripsi penataan ulang ruang kelas agar lebih inklusif dan nyaman.

 

 

 

 

 

 

 


Keterangan penataan :

·       Meja disusun berkelompok (4-5) untuk mendorong interaksi dan kerja sama

·       Area sirkulasi di buat lebih luas agar mudah di akses oleh semua murid

·       Tersedia pojok baca, pojok tenang (calming corner) dan pojok karya siswa

·       Guru lebih mudah berkeliling, memantau dan membimbing

·       Penataan fleksibel untuk semua kegiatan (diskusi, presentasi, dan projek)

o   Buat rencana sederhana bagaimana Anda akan membangun iklim sosial dan emosional yang positif, misalnya:

§  Aturan kelas yang mendukung rasa saling menghargai

ü  Kita mendengarkan saat orang lain berbicara

ü  Kita menghargai setiap pendapat orang lain

ü  Kita saling membantu dan tidak saling mengejek

ü  Kita saling menjaga kebersihan dan kerapian kelas bersama.

ü  Kita berusaha yang terbaik dan tidak pernah menyerah

§  Cara menyambut dan melibatkan murid secara aktif

ü  Menyambut setiap murid dengan senyum dan sapaan yang hangat

ü  Mengajak murid menyampaikan pendapat/ide melalui pernyataan terbuka

ü  Memberi kesempatan berperan untuk semua murid (pemimpin diskusi, notulen, pembawa materi, dan penjaga waktu)

ü  Memberi pujian spesifik untuk setiap kemajuan murid.

ü  Menggunakan ice breaking dan permainan singkat

4.     Buat Komitmen Tindakan

o   Tuliskan tiga langkah konkrit yang akan Bapak dan Ibu lakukan segera untuk mewujudkan rencana tersebut

1)    Mengubah penataan tempat duduk menjadi kelompok yang fleksibel dan menyediakan pojok baca serta pojok tenang

2)    Membuat dan menerapkan aturan kelas positif bersama murid serta rutin refleksi emosional.

3)    Menyiapkan dan menggunakan alat bantu belajar yang inklusif (poster visual, label jelas, alat bantu untuk low vision dll) serta berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk aksebilitas

o   Tandai prioritas dan waktu pelaksanaannya.

1)    Langkah konkret pertama di prioritaskan lebih tinggi dilaksanakan pada minggu pertama sampai dengan akhir minggu

2)    Langkah konkret kedua di prioritaskan sedang dilaksanakan pada minggu ke dua dan akhir minggu

3)    Langkah konkret ketiga di prioritaskan rendah dilaksanakan pada minggu ketiga karena akan menunggu persetujuan kepala sekolah dan banyak hal yang harus di pertimbangkan